Bulan lalu aku ikut lomba debat antarsekolah untuk pertama kalinya. Timku kalah di babak penyisihan. Rasanya waktu itu seperti dunia runtuh. Sekarang, setelah beberapa minggu, aku justru bersyukur kalah di sana.

Data yang banyak tidak menjamin menang

Kami menyiapkan puluhan lembar catatan: angka, hasil survei, kutipan ahli. Saat giliran bicara, aku membacakan semuanya secepat mungkin. Juri bilang argumen kami "padat tapi tidak jelas arahnya." Ternyata tiga alasan yang dijelaskan dengan baik lebih kuat daripada sepuluh alasan yang dibacakan terburu-buru.

Mendengar itu sama pentingnya dengan bicara

Aku terlalu sibuk menyiapkan jawaban sendiri sampai tidak benar-benar mendengar lawan. Waktu sesi tanggapan, aku membantah hal yang tidak pernah mereka katakan. Debat ternyata bukan soal siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang paling memahami percakapan.

Gugup itu normal

Tanganku gemetar, suaraku naik turun, dan aku lupa satu poin penting. Setelah lomba, aku mengobrol dengan peserta dari sekolah lain yang terlihat sangat tenang di panggung. Dia bilang dia juga gugup, hanya saja sudah terbiasa. Kalimat itu menenangkan sekali.

Kalah bukan akhir

Pelatih kami bilang, setiap tim juara pasti pernah kalah di babak awal. Sekarang kami latihan seminggu sekali. Kami belajar menyusun argumen yang pendek, berlatih mendengar, dan membiasakan diri bicara di depan orang.

Tahun depan aku akan ikut lagi. Mungkin masih kalah. Tapi setidaknya aku akan kalah dengan cara yang lebih baik.