Hujan turun tepat ketika aku sampai di halte. Bukan gerimis yang sopan, tapi hujan yang langsung deras seperti ember ditumpahkan dari langit.

Di bangku halte sudah ada satu orang: anak laki-laki dari kelas sebelah. Aku tahu wajahnya, tapi tidak tahu namanya. Dia memeluk tas di pangkuan supaya tidak basah, dan matanya menatap ujung jalan, menunggu angkot yang sama denganku.

Aku duduk di ujung bangku yang lain. Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara. Hanya suara hujan di atap seng dan sesekali motor yang lewat menyiprat genangan.

"Kamu suka bau hujan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku menoleh, tidak yakin dia bicara padaku. Tapi tidak ada orang lain di sana.

"Suka," jawabku. "Tapi bukan hujannya. Bau tanah sebelum hujan."

"Itu ada namanya," katanya. "Petrikor. Aku baru tahu minggu lalu dari video."

Aku mengulang kata itu pelan. Petrikor. Kedengarannya seperti nama tokoh di novel fantasi.

Kami lalu mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting: guru matematika yang selalu terlambat lima menit, kantin yang menaikkan harga gorengan, lagu yang terus diputar di radio angkot. Anehnya, obrolan yang tidak penting itu terasa menyenangkan.

Dari ujung jalan, lampu angkot berwarna biru muncul di balik tirai hujan. Kami berdiri bersamaan.

Angkot berhenti. Sopirnya menunjuk ke dalam: hanya tersisa satu tempat duduk.

Anak itu menatapku sebentar, lalu mundur satu langkah. "Duluan saja. Rumahku dekat, nanti aku jalan kalau hujannya reda."

"Kamu yakin?"

Dia mengangguk. Aku naik. Dari jendela yang berembun, aku melihat dia kembali duduk di bangku halte, memeluk tasnya lagi.

Baru ketika angkot sudah berbelok di tikungan, aku sadar aku lupa menanyakan namanya.

Besok, pikirku. Besok aku akan cari tahu.