Jarum jam di atas papan tulis
berjalan seperti orang yang baru bangun tidur.
Satu detik, lalu berhenti,
seolah ia juga ingin pulang.

Di luar jendela, matahari mulai miring,
bayangan tiang bendera memanjang ke lapangan.
Kami menghitung mundur dalam hati,
dan bel itu tetap tidak berbunyi.

Lalu ia berbunyi.
Dan anehnya, sesampainya di rumah,
aku malah rindu suara kapur,
dan teman yang menguap di bangku sebelah.